Back
Masjid Raya Ganting
Dije_Chan
January 23, 2024

Masjid Raya Ganting

📍Kecamatan Padang Barat

Masjid Raya Ganting (Masjid Tertua kota Padang) Masjid Raya Ganting (atau ditulis dan dilafalkan Gantiang dalam bahasa Minang) adalah masjid peninggalan abad ke-19 yang terletak di Kampung Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Tercatat sebagai masjid tertua di Padang, cikal bakal masjid ini berawal dari sebuah surau di Seberang Padang, daerah permukiman awal dalam sejarah Padang. Arsitekturnya merepresentasikan akulturasi etnis-etnis yang ada di Padang dengan pengaruh Neoklasik dari Eropa yang dominan pada bagian fasad. Berada di kawasan yang dulunya merupakan pusat kota, Masjid Raya Ganting sempat menjadi masjid terbesar di Minangkabau pada awal abad ke-20. Masjid ini telah berkontribusi dalam pengembangan dakwah Islam, menjadi tempat perdebatan wacana keislaman di Minangkabau, hingga berperan pada masa genting ketika Sumatra Barat diduduki oleh tentara Jepang. Pamornya meredup pasca-pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) disusul kehadiran masjid besar baru seperti Masjid Nurul Iman dan Masjid Taqwa Muhammadiyah. Bangunan Masjid Raya Ganting terpelihara dengan baik walaupun sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi tahun 2005 dan 2009. Masjid ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia dan menjadi daya tarik wisata di Kota Padang. Pembangunan Cikal bakal Cikal bakal Masjid Raya Ganting berawal dari sebuah surau. Dalam sejarah Padang, surau paling awal terletak di Kapalo Koto (kini masuk wilayah Seberang Padang) dan dibangun pada abad ke-18. Pada tahun yang tidak diketahui, surau dipindahkan ke Kampung Ganting di tepi Batang Arau dan dinamakan sebagai Surau Kampung Ganting. Surau didirikan di atas tanah Haji Umar, kepala kampung setempat dari Suku Caniago. Lokasinya berada di dekat Jembatan seberang Padang, sekitar 300 meter dari lokasi masjid sekarang. Semula, bangunan surau terbuat dari kayu dengan atap berbahan rumbia. Konstruksi surau kemungkinan ditingkatkan seiring waktu. Meskipun tahun pendirian surau tidak diketahui, keberadaan rumah ibadah di tepi Batang Arau sudah diidentifikasi pada 1781 dalam laporan yang dibuat oleh Jacob van Heemskerk, residen VOC di Padang, ketika menyerahkan kota kepada Inggris akibat Perang Inggris-Belanda Keempat. Masjid Raya Ganting yang berdiri di lokasi sekarang didirikan sebagai pengganti Surau Kampung Ganting dan surau terdahulu di Kapalo Koto. Pendirian masjid sejalan dengan pembentukan nagari oleh delapan suku di Padang yang bernama Nagari Nan Salapan Suku. Menurut adat Minangkabau, sebuah nagari dapat berdiri apabila salah satunya memiliki masjid. Namun, kapan persisnya masjid dibangun tidak diketahui pasti. Meski demikian, Masjid Raya Ganting jamak disebut sebagai masjid tertua di Padang. Pembangunan masjid Wartawan Fachrul Rasyid dari majalah Gatra menulis Masjid Raya Ganting didirikan pada 1805 dan rampung pada 1810. Salah seorang pemrakarsa pembangunan adalah Haji Umar. Tanah untuk lokasi masjid diperoleh dari hasil wakaf masyarakat Kampung Ganting. Dana pembangunan dihimpun dari penduduk Muslim setempat, terutama dari kalangan saudara. Masjid awal memiiki bentuk sederhana. Menurut versi ini, Masjid Raya Ganting termasuk bangunan yang tetap utuh saat terjadi gempa bumi disertai tsunami yang melanda pantai barat Sumatra pada 1833. Namun, lantai batunya rusak sehingga diganti dengan lantai coran kapur dari kulit kerang dan batu kapur. Sementara itu, sejarawan Rusli Amran dalam Padang Riwayatmu Dulu menyebut pendirian Masjid Raya Ganting dimulai pada 1866. Namun, pembangunannya berjalan lamban sehingga, sesudah 20 tahun dibangun, masjid "belum selesai betul" karena dana yang "selalu saja kurang". Surat kabar Sumatra Courant pada 1868 melaporkan beberapa imam pribumi di Padang melakukan penggalangan dana dari masyarakat Muslim untuk pembangunan masjid. Tokoh dalam penggalangan dana yang teridentifikasi yakni Syekh Kapalo Koto, seorang imam di Seberang Padang dan Syekh Gapuak (bernama asli Abdul Halim), seorang saudagar sarung bugis di Pasar Gadang. Dua tokoh ini, bersama Haji Umar selaku kepala kampung Ganting, disebut oleh banyak sumber sebagai tiga tokoh pemrakarsa Masjid Raya Ganting. Pengembangan Bangunan awal Masjid Raya Ganting memiliki ruang utama berukuran 30 × 30 m, ditambah serambi selebar 4 m mengelilingi bangunan utama. Pada awal abad ke-20, lantai bangunan mulai dicor dengan semen buatan Jerman dan dipasang tegel dari Belanda yang dipesan melalui NV Jacobson van den Berg. Pemasangan tegel ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada 1910. Selama tahun-tahun berikutnya, dilakukan sejumlah pekerjaan pembangunan yang mengubah tampilan bangunan, terutama pada bentuk atap, cungkup, tiang, dan fasad yang ada sekarang. Biaya pembangunan diperoleh dari sumbangan wakaf beberapa jemaah yang namanya dipampang pada prasasti di dinding serambi bagian dalam. Menurut sementara sumber, seorang perwira dari Korps Tentara Zeni Hindia Belanda wilayah Pesisir Barat Sumatra (yang meliputi Sumatra Barat dan Tapanuli sekarang) turut serta dalam pengembangan Masjid Raya Ganting. Bantuan diberikan sebagai bentuk kompensasi pemerintah kolonial atas tanah wakaf masjid yang terpakai saat membuka jalan batu. Namun, tidak ada penjelasan mengenai kapan dan bentuk bantuan yang diberikan. Pada mihrab tempat imam memimpin salat dan menyampaikan khotbah, dibuat ukiran kayu mirip ukiran Tiongkok. Di bagian tengah ruangan salat, dibangun sebuah muzawir berukuran 4 × 4 m berbentuk panggung dari kayu dan diberi ukiran Tiongkok. Muzawir berfungsi sebagai tempat penyambung suara imam sehingga makmum dapat mendengar aba-aba imam. Saat salat Jumat, suara imam nyaris tak terdengar jamaah paling belakang. Setelah ada pengeras suara, muzawir tidak digunakan lagi sehingga pengurus masjid membongkar bangunan tersebut pada 1978. Pada 1960, dilakukan pemasangan keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari batu bata. Pada 1967, dibangun menara pada bagian kiri dan kanan fasad masjid serta sebuah tempat wudu permanen dan tertutup. Pada 1995, dilakukan pemasangan keramik pada dinding ruang utama. Arsitektur Arsitektur Masjid Raya Ganting kerap disebut sebagai hasil akulturasi etnis-etnis yang ada di Kota Padang. Pada abad ke-19 ketika masjid ini dibangun, Padang telah dihuni oleh berbagai bangsa dan kelompok etnis, termasuk Tionghoa, Eropa, dan India. Mereka membentuk perkampungan di sekitar masjid; kecuali bangsa Eropa, kampung-kampung mereka masih dapat dijumpai sampai sekarang. Masjid ini memiliki bentuk atap berundak, ciri khas arsitektur masjid di Nusantara. Puncak atap diberi kubah nenas dengan hiasan mustaka. Undakan atap terdiri atas lima tingkat; tiga tingkat berdenah persegi dan dua tingkat berdenah segi delapan. Menurut Fachrul Rasyid, bagian atap berdenah segi delapan dulunya dikerjakan oleh tukang-tukang Tionghoa di bawah pimpinan Kapten Cina Lau Ch’uan Ko (atau Louw Tjoean Ko). Namun, kronologisnya tidak jelas. Pengaruh Eropa dan India terdapat pada fasad Masjid Raya Ganting. Fasad menutup seluruh dinding di bagian depan serta sebagian dinding di bagian samping (kiri dan kanan). Elemen fasad meliputi pelengkung, friz, dan parapet yang terinspirasi oleh gaya arsitektur Neoklasik. Pelengkung terdapat pada pintu berbentuk busur bertipe tudor. Friz berupa bidang melintang yang tersusun atas panil-panil kosong. Adapun parapet berupa deretan baluster dengan hiasan kubah bawang, yang kemungkinan dipengaruhi arsitektur Mughal. Terdapat tambahan elemen berupa pilaster, mimbar, dan sepasang menara di fasad bagian depan. Pilaster berjejer empat berbentuk pilar ganda bergalur. Mimbar terletak di tengah-tengah berukuran 220 × 120 × 275 cm. Adapun menara terdapat di ujung kiri dan kanan. Dikutip seperlunya dari situs padangdotgodotid

💬 8 comments

Comments (8)


Yuliatno
YuliatnoJanuary 23, 2024

Uwowooww,, Zupeerr tjakepp bang huu,, maa syaa Alloh

adoelPutra
adoelPutraJanuary 23, 2024

trbaik

HERMANDHES
HERMANDHESJanuary 23, 2024

alhamdulillah😇😇

rivai_nugraha
rivai_nugrahaJanuary 23, 2024

keren like back

erwien_hd
erwien_hdJanuary 23, 2024

masyaAllah

NiraKunea
NiraKuneaJanuary 24, 2024

Detil banget deskripsinya 🤭

Masjid Raya Ganting - Pindle