Back






šMAMAN UNGU
šKecamatan Gunung Sindur
Maman Ungu (Cleome rutidospermaĀ D.C.)
1. Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Capparidales
Suku : Capparidaceae
Marga :Cleome
Jenis : Cleome rutidospermae D.C.
2. Morfologi Tanaman
Herba tegak, merambat atau tumbuh merangkak tinggi 0.15-0,80 m, berbunga sepanjang tahun. Daun mahkota bunga dengan ujung runcing seperti cakar, panjang 9-12 mm; di Jawa berwarna biru; bulu-bulu halus yang pendek; tangkai buah 20-30 mm; batang (berbentuk kapsul) yang masak berada di atas goresan daun berangsur-angsur meruncing seperti paruh; diameter biji 1,75-2 mm, elaiosom keputihan; helaian daun biasanya 3, bentuk daun memanjang atau bulat memanjang, tajam atau tumpul, dengan bulu-bulu tebal pendek; batang 0,5-2 cm dengan duri tipis. Dikenal dengan nama Maman ungu atau Maman lelakiĀ .
3. Habitat dan Penyebaran
Ditemukan di pinggir jalan, sawah, ladang. Juga ditemukan hidup sebagai epifit pada batu dan kayu. Terutama banyak ditemukan di KalimantanĀ .
4. Kandungan Kimia dan kegunaan
Anggota famili Capparaceae mengandung tioglukosida (dikenal sebagai glukosinolat) yang melepaskan isotiosianat (minyak menguap) jika tanaman dihancurkan. Selain itu tanaman ini juga mengandung alkaloid dan flavonoid yang jenisnya belum diketahuiĀ
Kegunaan
Pustaka maupun penelitian ilmiah mengenai khasiat Cleome rutidosperma D.C ini masih sangat terbatas dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitasnya belum diketahui dengan pasti. Cleome rutidosperma dapat digunakan sebagai antifeedant (pengganti herbisida) untuk hama tanaman Brassica yaitu jenis Plutella xylostella (L.). Minyak menguapnya mempunyai aktivitas dapat mengiritasi kulit dan mungkin juga aktivitas kontak alergenikĀ
5. Penelitian Antikanker
Walaupun belum banyak diteliti, namun ternyata mengandung golongan senyawa potensial antikanker, seperti alkaloida dan flavonoida, yang keduanya berpotensi sebagai regulator negatif onkogen (kelompok gen pengatur daur sel) dan regulator positif gen tumor suppressor, sehingga berpotensi sebagai anti-kankerĀ . Regulasi negatif onkogen akan menghentikan proliferasi sel kanker pada fase tertententu dari daur sel. Sebagai gen tumor suppressor, seperti protein p53 dan protein Retinoblastoma (pRb). Protein Rb mampu mengikat protein E2F (faktor replikasi), sehingga siklus sel akan dihambatĀ . Contohnya alkaloida pada tapak dara (Chatarathus roseus (L.) G. Don) yang mampu menghentikan mitosis sel kanker pada metafase. Sedangkan flavonoida dapat menginduksi apoptosis melalui penghambatan aktivitas Topoisomerase DNA I/II, penurunan ROS (Reactive Oxygen Species), pelepasan sitokrom C, aktivasi endonuklease dan penurunan Mcl 1. Mekanisme flavonoid sebagai antiproliferatif sel kanker juga dapat melalui inaktivasi senyawa karsinogen (berkaitan dengan interaksi antara flavonoida dengan enzim yang berperan dalam metabolisme, misalnya enzim Gluthation S-Transferase), menghambat angiogenesis dan sebagai antioksidanĀ , Anggota familia Capparaceae ini juga memiliki kandungan glukosinolat dan produk degradasinya, isotiosianat, Glukosinolat mampu memacu aktivitas zat antioksidan dan mekanisme detoksifikasi. Sedangkan isotiosianat dapat menghambat pertumbuhan tumor dan perkembangan kanker. Dari hasil penelitian American Health Foundation, tentang pengaruh konsumsi brokoli yang mengandung isotiosianat selama 11 tahun, diketahui orang yang kurang mengkonsumsi brokoli beresiko kanker paru 36 persen lebih tinggiĀ .
š¬ 5 comments
Comments (5)

YuliatnoFebruary 20, 2023
mantapss maa syaa Alloh,, gimana kabar bang ,,, kayaknya dah lama ngga keliatan,, hehehe

Gust_SetyawanFebruary 20, 2023
kmna aja lur?gimana kabarnya?

Chem SyamFebruary 20, 2023
Alhamdulillah adekku muncul lagiššš

bhamsonsofficialMarch 24, 2023
lovely š

saptanursandiOctober 24, 2023
keren
